Albert Fakdawer

Albert Fakdawer

Published On Desember, 12 2012 | By Vido Fransisco Pardede

DENIAS YANG CINTA PAPUA

AFI JUNIOR BUKAN KEBETULAN

            Namanya melejit setelah ia mengikuti ajang pencarian bakat cilik di sebuah stasiun televisi, tidak hanya dalam dunia tarik suara saja tapi juga dalam dunia seni peran. Albert Thom Joshua Fakdawer atau yang dulu kita kenal sebagai Albert Fakdawer atau Albert AFI Junior kini sudah semakin beranjak dewasa. Ketika ditemui PRAISE di rumahnya di kawasan Ciputat, Tangerang, Albert nampak sangat antusias menyambut kedatangan PRAISE.

            Saat melihat variety show AFI di Indosiar, sebenarnya Albert sangat berminat untuk mengikuti acara ini, tapi karena saat itu umur Albert baru 12 tahun jadi tidak memenuhi syarat, akhirnya ia tidak jadi mendaftarkan diri. Namun tak berapa lama kemudian Indosiar membuat acara serupa yang dikhususkan untuk anak-anak, Albert pun langsung mendaftarkan diri. Diakuinya, AFI Junior ini bukan sekedar ajang instant baginya menjadi penyanyi, tapi ini adalah waktu dan rencana Tuhan. “Waktu itu saya benar-benar berharap bisa masuk AFI terus saya minta ijin papa buat daftar. Masa saya harus tunggu sampai umur 17 tahun,” kisahnya.

Dan memang terbukti Tuhan punya rencana besar bagi hidup Albert, karena saat itu ternyata keluarga Albert akan pulang ke Papua, karena hampir tidak mampu bertahan hidup di Ibukota Jakarta yang sangat keras. “Ada satu hari dimana saya dan keluarga nggak punya uang, cuma punya uang 12.500, tapi Tuhan selalu buat mujizat, ada aja orang kirim beras, uang, dll,”  kisahnya lagi.

INGIN JADI GURU MUSIK

            Sukses menjadi juara kedua AFI Junior telah memberi Albert banyak pelajaran. Ia bukan hanya mendapat kesempatan untuk mempelajari seluk beluk dunia musik tapi juga berbagai tehnik panggung, interaksi dengan penonton dan berbagai pelajaran lain. Ternyata itulah yang menjadi bekal untuk membawanya ke dunia seni peran dan semakin melambungkan namanya. Suatu hari secara tak sengaja Mieke Wijaya (red: Ibunda Nia Zulkarnaen) melihat Albert menyanyi lagu ‘Sajojo’ di studio Indosiar. Mieke yang merasa sepertinya Albert cocok memerankan tokoh utama untuk film garapan Ari Sihasale, segera memberitahukan menantunya yang saat itu sedang pusing mencari tokoh Denias untuk film ‘Denias, Senandung Di Balik Awan’. “Sebenarnya film itu mau dibuat tahun 2002, tapi karena Ari Sihasale sudah hunting ke Papua dan belum menemukan orang yang cocok jadi film itu belum bisa dibuat, karena anak-anak Papua masih pada takut lihat kamera. Akhirnya mereka tawarin ke saya, dan setelah saya baca script nya saya setuju banget,” ucap pelajar kelas 2 SMA 1 Ciputat itu.

            Meski merasa beruntung menjadi Denias, tapi sebenarnya memang peran itu juga bukan secara kebetulan menghampiri Albert. “Saya pernah bilang sama Tuhan, apa yang bisa saya buat untuk Papua Tuhan?” ujarnya. Karena itu ketika ia menerima peran sebagai Denias, yang mengisahkan tentang perjuangan seorang anak dari pedalaman Papua untuk mendapatkan pendidikan yang layak., Albert tak mau main-main menjalani shooting di Papua yang memakan waktu sebulan lebih. “Film itu bukan cuma menggambarkan keindahan tanah Papua, tapi juga ada doa di dalamnya,” tandas pengagum Will Smith dan Stevie Wonder ini.  Kepada PRAISE Albert begitu antusias menceritakan Papua, menurutnya, Papua itu bukan hanya memiliki sumber daya alam yang kaya dan indah, tapi juga menyimpan banyak potensi yang harus dikembangkan, apalagi untuk urusan musik. “Saya ingin jadi guru musik di sana. Di Papua banyak orang yang punya bakat musik tapi tidak dikembangkan, makanya saya ingin mereka juga bisa maju karena bisa musik secara otodidak aja itu belum cukup,”  tutur peraih piala Citra di Festival Film Indonesia tahun 2006 untuk kategori aktor utama terbaik dan aktor pendatang baru terbaik dalam Indonesian Movie Awards tahun 2007 lalu melalui film Denias, Senandung Di Balik Awan.

HARI-HARI HIDUP

            Selain diberkati melalui AFI Junior dan film Denias, Albert juga telah meluncurkan album rohani perdananya yang berjudul ‘Hari-Hari Hidup’ di bawah bendera Sola Gracia Record pada bulan November 2008. Putra dari pasangan Musa Fakdawer dan Meilani Aronggear  ini sekarang sedang sibuk menimba ilmu di Sekolah dan di Lembaga Pendidikan Musik Farabi. Kini iapun tak pernah lagi kita lihat di layar televisi, tapi itu bukan berarti tak eksis lagi di dunia hiburan. “Saya tetap di musik, sekarang saya lagi sibuk jadi panitia pensi (pentas seni) di sekolah dan lagi nyiapin diri buat kuliah musik juga, biar bisa cepet-cepet ke Papua,” jawabnya saat ditanya kesibukannnya sekarang.

            Baginya, hidupnya tak bisa dipisahkan jauh dari musik. “Musik itu suasana hati, misalnya ketika saya sedang berada di hutan belantara dan nggak ada alat musik, tapi di hati akan selalu terngiang-ngiang nada-nada sebuah lagu dan di mulut mengeluarkan suara nyanyian,” urainya sambil menggumamkan sebuah lagu bernada gembira.

            Jemaat GKI Pondok Indah ini rupanya sedang belajar lebih banyak bersyukur dan lebih sungguh melayani Tuhan melalui setiap kesempatan dan peristiwa yang dialami dalam hidup ini , walau kondisinya tak menyenangkan. “Yang namanya pelayanan itu mana ada yang enak, kalau pelayanan dimana-mana saya nggak pernah merasa ini lho gue Albert Fakdawer yang harus dihargai. Kalau kita mau dihargai dan diperhatikan orang kita harus lebih dulu memperhatikan dan menghargai orang. Kaya Yesus yang mendedikasikan dirinya kepada orang lain,” katanya dengan serius.

            Makna pengorbanan Yesus itulah yang sampai kini menjadi acuan baginya untuk melayani Tuhan dan mengucapkan pujian syukur melaui ungkapan Haleluya yang menurutnya adalah suatu pengagungan kepada Tuhan. “Haleluya seperti Praise the Lord, terpujilah Tuhan,” tandasnya. Jadi menurutnya mengagungkan Tuhan itu penting sekali apalagi setelah ia melihat begitu banyak kebaikan Tuhan. Ia semakin serius belajar musik untuk dibagikan ke masyarakat Indonesia Timur. “Melihat segala sesuatu dari Timur itu enak, makanya saya lebih senang keliling Papua daripada keliling dunia,” tegas remaja kelahiran Jakarta 29 Juni 1993 lalu. (min / Praise #10 / 2010)
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus