Aboda

Aboda

Published On Desember, 11 2012 | By Vido Fransisco Pardede

Instrumental Musik

     Dalam kalangan dunia musik rohani mungkin sudah begitu banyak group-group band yang terbentuk, namun kali ini beda. Yang kita sajikan kali ini bukan sebuah group band yang biasa karena memiliki keunikan tersendiri. Ya mereka adalah ABODA yang lalu menerima penghargaan sebagai “Instrumental Album Of The Year” dalam ajang Indonesian Gospel Music Award 2008. Kalau mau kenal lebih dekat. Ayo kita baca bareng-bareng.

PROSES PENCARIAN NAMA ABODA YANG RUMIT

     Sudah sekitar 10 tahun mereka berdiri, dan semua itu tidak terlepas dari pengaruh karisma sang Papa (Alm. Ev. Martinus Noya). Awalnya nama yang mereka pakai sebelum album dirilis adalah worshippers. Baru setelah mau merilis album,  mereka pun sempat mempertimbangkan lagi lantaran banyak yang memakai nama worshippers. Proses pencarian nama group ternyata memakan waktu cukup panjang karena melibatkan teman-teman di Sekolah Theologia untuk memberikan istilah dan makna suatu nama yang cocok.

     Dari sanalah mencuat sebuah nama yang berasal dari bahasa ibrani “ABODA”—artinya  ibadah, menyembah  atau dalam bahasa Inggris “worship”.

     Group band ini terdiri dari 4 personil dan semuanya merupakan saudara kandung (Wah..jarang banget ya!!!). Mereka adalah Timotius  Noya (keyboard / piano), Fanuel Noya (drum), Filemon Noya (gitar), Clement  Noya (bass). Nama Aboda digunakan secara resmi pada November 2006 setelah album hampir jadi. Akhirnya Juni 2007 nama Aboda tertera dalam album perdananya.

     Ketika ditanya apa yang menjadi inspirasi dalam pembuatan album ini? “Sebenarnya susah juga gimana mengatakannya. Karena kita dari kecil diarahin untuk belajar main musik bersama-sama. Terbentuknya bisa dibilang gradasi,” jelas Fanuel, yang merupakan anak kedua. “Dan juga karena kita dulu terbiasa ikut pelayanan papa. Justru dia yang menginspirasi kami untuk membentuk group band,” Kata Filemon menyambung pembicaraan.

     Perlahan tapi pasti, seiring bergulirnya waktu, Aboda pun memiliki pelayanan sendiri setelah ayah mereka kembali ke Rumah Bapa di Surga 3 tahun yang lalu.

PROSES REKAMAN ABODA YANG UNIK

     Umumnya jika kita ingin memiliki album, apalagi berlabel, maka lagu-lagu itu pasti kita ajukan untuk rekaman di sebuah studio. Akan tetapi Aboda berbeda. Mereka malah ditawari oleh seorang produser di salah satu gereja, ketika mereka melayani untuk masuk dapur rekaman pada tahun 2006 lalu. Pembuatan album Aboda pun unik, karena 10 lagu, direkam secara bertahap “Kalau ada lagu kita masuk rekaman, kalau tidak ada ya..kita gunakan buat latihan,” ujar Clement sang bassist. Puji Tuhan, akhirnya pada bulan Oktober 2006 yang lalu mereka mampu merampungkan 10 judul lagu dan dipasarkan pada Juni 2007 dengan label Victorious Music.

     Keunikan lain dari Aboda adalah cara mengekspresikan seninya lewat permainan instrumen yang bernuansa Jazz. Dengan kemasan inilah Aboda bisa menembus pasar sekuler, tanpa menghilangkan misinya untuk bersaksi tentang Kristus. Di album mereka pun tertera ayat Luk 23:43 dalam track “Today In Paradise”.

     Oleh karena itu, Aboda sering ditanya oleh beberapa audience, sebenarnya band rohani atau band sekuler? Ternyata ini tidak penting bagi mereka. “Yang kami mainkan itu merupakan suatu pesan yang disampaikan ke audience, dan tujuannya tetap Kristus. Kami merasa kami harus membawa pesan,” jelas Aboda ketika berkunjung di kantor majalah PRAISE .

PENGELOMPOKAN LAGU-LAGU DI ALBUM ABODA

     Jika kita cermati ternyata ada 3 macam pengelompokan lagu dalam album mereka. Pertama, lagu yang diciptakan mereka sendiri (Extricate, Vida Eterna/Eternal Life, Today In Paradise dan Intimacy). Kedua, lagu Hymn. Jika kita mendengarkan lagu intrumental mereka, pasti muncul dalam benak kita “kok seperti lagu kidung”, khususnya bagi aliran protestan (seperti GKI, GKJ, dll)  “Sejarahnya kami dari Gereja Baptis Indonesia Kalvari (GBIK), no drum, kami sudah terbiasa dengan kidung pujian. Kami lihat anak muda tidak terlalu suka dengan kidung pujian sehingga kami mengemas menjadi musik instrumen supaya anak muda bisa suka lagu hymn / traditional song dan orang tua juga suka dengan lagu full band,” jelas mereka bersama-sama. Dan Ketiga, lagu yang sedang banyak digandrungi anak-anak muda. Contohnya One Way (Hillsong) dan “Allahku Dahsyat”.

     “Today In Paradise” menjadi track instrumen andalan mereka. Karena selain lagu mereka sendiri, juga ada ayat-ayat yang mengandung pesan-pesan khusus. Bagaimana bisa tahu musik instrumen tersebut berjudul Today In Paradise, karena tidak ada syairnya? “Kita dengerin dulu. Kira-kira kalau kamu dengerin lagu ini judulnya apa ? feelnya apa ?,” papar mereka di kantor PRAISE. 

     “Kami nggak pernah bilang, musik kami jazz, biasanya yang bilang orang lain. Apa yang kami output itu pasti berasal dari input,” jelas Aboda  ketika ditanya soal jalur musik yang mereka tempuh.

     Bagi mereka album perdananya ini merupakan album pembelajaran. Mulai dari vokal, arranger vokal, sampai produksinya ternyata murni dari Aboda sendiri. “Kreativitas musik instrumen murni dari kami,” terang Clement, anak paling bungsu dari pasangan Alm. Ev.Martinus Noya dan Wahyuni Noya.

     Design cover Aboda yang banyak didominasi alat-alat musik, itu  karena ingin mencerminkan musik mereka yang mayoritas instrumental. Pelayanan  yang paling berkesan adalah pada waktu mereka mendapat kesempatan tampil di konser yang bukan kalangan Kristen saja  tapi sekuler dengan membawakan musik yang Aboda banget dan mengusung nama Yesus. “Komitmen kami nggak mau dan nggak akan main lagu-lagu sekuler,” tambah Timotius sang keyboardist.

     “Sebuah hal yang unik itu minoritas. Gimana cara ngejual idealisme. Untuk kalangan rohani mudah-mudahan diterima dan orang diberkati. Dalam arti apa? Kami percaya dalam lagu itu ada kuasa, ada kuasa dalam pujian,” demikian mereka menutup wawancara dengan PRAISE tentang harapannya ke depan. (Ind / Praise #5 / 2009)
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus